Pengamatan Hari Tanpa Bayangan oleh kelompok LPP Astronomi Putri Dayah Insan Qurani Aceh Besar pada Kamis (9/9/2021) terkendala cuaca mendung. Meski demikian, tim tetap melanjutkan pengamatan dan berdiskusi dengan pembina terkait sebab dan kaitannya dengan ibadah umat Islam.

Berdasarkan data yang dirilis Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Besar akan mengalami hari tanpa bayangan pada Kamis, 9 September 2021 pada pukul 12:34:56 WIB.

Tim yang beranggotakan 14 orang santriwati dayah Insan Qurani tersebut dipersiapkan untuk mengambil data pergerakan matahari, mencatat dan mendumentasikan perubahan panjang dan posisi bayangan matahari pertiga puluh menit, analisa selisih waktu kulminasi, waktu dhuhur, serta kumandang azan di wilayah Gampong Aneuk Batee dan sekitarnya untuk kemudian didiskusikan bersama pembina.

Munadilatul Asyi, santri kelas XII Madrasah Aliyah Insan Qurani, yang turut ikut dalam pengamatan tersebut mengatakan, timnya telah mempersiapkan pengamatan dan simulasi sejak dua hari yang lalu.

Untuk melaksanakan pengamatan tersebut, ia dan tim mempersiapkan sejumlah peralatan, di antaranya istiwaini, kompas, penggaris, jam yang telah dikalibrasi, spidol, pulpen, dan lembar kerja pengamatan yang disiapkan pembina.

“Kami akan mencoba kembali besok (10/9/2021) karena awan menutupi matahari sepanjang hari disertai hujan ringan. Walaupun begitu, kami tetap melanjutkan pengamatan dan mendapatkan penjelasan terkait peristiwa ini dari pembina kami, Ust. Rahmatul Fahmi, melalui data-data astronomi yang tersedia.” Ujar Muna.

Muna melanjutkan, peristiwa ini merupakan bagian dari pergerakan semu matahari, saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat dan tidak ada kaitannya dengan akan terjadinya musibah atau lainnya.

“Di beberapa kolom komentar media sosial ada yang membahas bahwa ini merupakan tanda akan terjadinya musibah. Pembina menjelaskan kepada kami jika peristiwa tersebut rutin terjadi dua kali setiap tahun di semua daerah di antara lintang 23,5° Lintang Utara dan Lintang Selatan karena bumi dalam berevolusi terhadap matahari dan berotasi memiliki kemiringan sudut 23,5° sehingga menciptakan pergerakan semu dari sudut pandang pengamat di bumi. Bahkan jejak gerak semu tersebut dapat menciptakan analemma matahari. Jadi tidak benar bila itu merupakan tanda akan terjadinya musibah.” Ujarnya.

Lebih lanjut ia menerangkan jika peristiwa langit tersebut justru sekaligus bermanfaat untuk menguji ketepatan perhitungan waktu shalat dhuhur yang telah dipelajari bersama teman-temannya dalam pelajaran ilmu falak di madrasah.

“Ternyata ibadah umat Islam amat erat kaitannya dengan pergerakan benda langit. Subhanallah. Mulai dari penentuan awal dan akhir puasa Ramadhan, waktu haji, waktu shalat, bahkan pengukuran arah kiblat juga menggunakan data posisi matahari di langit. Ini menambah pengetahuan dan keyakinan kami jika ciptaan Allah itu semuanya memiliki hikmah dan tujuan penciptaannya masing-masing.” Tutur Muna.

Komentar Anda