Seorang guru maupun pembina harus mampu menjadi sosok inspiratif kepada santri-santrinya. Ia harus mampu memahami beragam kepribadian yang unik dari setiap santri.

Selain itu, seorang guru juga hendaknya menjadi sosok yang memahami permasalahan masing-masing santri secara utuh dan menjadi pribadi yang menyenangkan bagi siswanya. Ia juga senang berfikir out of the box.

Demikian di antara yang disampaikan oleh Dr. Mumtazul Fikri, MA, Ketua Prodi Manajemen Pendidikan Islam UIN Ar-Raniry yang juga pemerhati pendidikan anak, dalam kegiatan workshop kepembinaan bagi guru dan pembina Dayah Insan Qurani di Hotel Permata Hati, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Dr. Mumtaz, siswa akan lebih mudah menyukai pelajaran jika gurunya mampu menyampaikan hal yang rumit dengan bahasa dan gaya yang disukai santri. Proses pendidikan yang efektif, menurutnya perlu membuat peserta didik merasa nyaman.

“Pelajaran yang kita sukai berawal dari guru yang membuat kita nyaman, bukan?” Ujar Dr. Mumtaz.

Tidak hanya menjadi guru dan pembina yang menyenangkan, ia juga harus menjadi teladan yang baik untuk santri-santrinya, baik saat mengajar maupun ketika berada di luar kelas. Sebab anak didik akan merekam semua perbuatan gurunya, baik itu hal baik maupun sebaliknya.

Acara yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari ini diadakan untuk meningkatkan pengetahuan kepembinaan berdasarkan karakter siswa.

Selain Dr. Mumtazul Fikri, workshop juga diisi dengan pengenalan aplikasi Sistem Informasi Dayah Insan Qurani oleh Ust. Rahmatul Fahmi. Aplikasi online yang dirancangnya ini bertujuan untuk membuat sistem administrasi di dayah Insan Qurani menjadi paperless. Termasuk untuk keperluan harian santri, seperti proses perizinan, tahfidzul quran, perkembangan akhlak dan kepribadian santri, dan juga absensi harian.

Workshop kepembinaan ini juga turut menghadirkan Ustzh. Nucke Yulandari, S.Psi, M.Psi, yang menjelaskan tentang psikologi santri di era milenial.

 

Komentar Anda