Posisi matahari yang sedang berada di atas kota Mekkah pada Kamis (27/5/2021) sore ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan matahari. Saat itu nilai azimuth matahari sama dengan nilai lintang geografis kota Mekkah. Setiap tahun, fenomena ini terjadi dua kali.

Fenomena Rashdul Qiblah ini disebabkan gerakan semu tahunan matahari. Bumi beredar mengelilingi matahari dengan sumbu kemiringan 66,50 terhadap bidang edarnya sehingga posisi matahari dari pengamat di bumi terlihat mengalami pergeseran 23,50 LU sampai 23,50 LS sepanjang tahun.

Momen rashdul qiblah ini terjadi 2 kali dalam setahun, yaitu :
1. Tanggal 27 Mei (Tahun Kabisat)
Saat di Mekah Matahari di puncak langit Ka’bah pukul : 12.17.52 Waktu Saudi, di Banda Aceh pada saat itu pukul: 16.17.52 WIB. Atau di Mataram pukul: 17.17.52 WITA.
2. Tanggal 28 Mei (Tahun Basithoh)
Saat di Mekah Matahari di puncak langit Ka’bah pukul : 12.17.59 Waktu Saudi, di Banda Aceh pada saat itu Pukul: 16.17.59 WIB. Atau di Mataram pukul: 17.17.59 WITA.
3. Tanggal 15 Juli (Tahun Kabisat)
Saat di Mekah Matahari di puncak langit Ka’bah pukul: 12.26.42 Waktu Saudi, di Banda Aceh pada saat itu Pukul: 16.26.42 WIB. Atau di Mataram pukul: 17.26.42 WITA.
4. Tanggal 16 Juli (Tahun Basithoh)
Saat di Mekah Matahari di puncak langit Ka’bah pukul: 12.26.48 Waktu Saudi, di Banda Aceh pada saat itu Pukul: 16.26.48 WIB. Atau di Mataram pukul: 17.26.48 WITA.

Teknik penentuan arah kiblat menggunakan Rasdhul Qiblah sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah di masa lalu. Demikian halnya di Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini.

Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebilah tongkat dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari.

Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Rasdhul Qiblah tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan kiblat. Sederhana, bukan?

Peristiwa Rasdhul Qiblah di sebahagian wilayah Indonesia terjadi pada sore hari. Arah bayangan tongkat adalah ke timur, sedangkan arah bayangan sebaliknya yaitu yang ke arah barat agak serong ke utara merupakan arah kiblat yang benar.

Cukup mudah dan tidak memerlukan keterampilan khusus serta perhitungan perhitungan rumus-rumus. Jika hari itu gagal karena matahari terhalang oleh mendung maka masih diberi roleransi penentuan dilakukan pada H+1 atau H+2.

Penentuan arah kiblat menggunakan teknik seperti ini memang hanya berlaku untuk daerah-daerah yang pada saat peristiwa Rasdhul Qiblah dapat melihat secara langsung matahari dan untuk penentuan waktunya menggunakan konversi waktu terhadap Waktu Makkah. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu matahari sudah terbenam misalnya wilayah Indonesia bagian Timur praktis tidak dapat menggunakan teknik ini. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia bagian Tengah barangkali masih dapat menggunakan teknik ini karena posisi matahari masih mungkin dapat terlihat.

Berikut Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Rasydul Qiblat :
1. Tentukan lokasi masjid/ mushalla/ langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya.
2. Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet.
3. Cari lokasi di samping Selatan atau di halaman masjid yang masih mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar dan pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul. Persiapan jangan terlalu mendekati waktu terjadinya Rasdhul Qiblah agar tidak terburu-buru.
4. Tunggu sampai saat Rasdhul Qiblah terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit)
5. Di Indonesia peristiwa Rasdhul Qiblah terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke timur. Sedangkan bayangan yang menuju ke arah barat agak serong ke utara merupakan arah kiblat yang tepat.
6. Gunakan tali, susunan keramik lantai, atau pantulan sinar matahari dengan menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid / rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan.
7. Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, sisi selatan bangunan masjid, tiang listrik, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Atau dengan teknik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang beberapa meter maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Dan juga melakukan penentuan arah kiblat tidak mutlak harus dilakukan pada tanggal tersebut bisa saja mundur atau maju 1-2 hari karena pergeserannya relative sedikit yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari.

Penulis: Alfirdaus Putra, SH, MH
Ahli Falakiyah Aceh, Sekretaris Dayah, dan guru pengasuh pelajaran Ilmu Falak Dayah Insan Qurani

Komentar Anda