Santri dan pembina Departemen Jurnalistik Dayah Insan Qurani menghadiri kegiatan pameran foto dan diskusi kebebasan pers bertajuk ‘Refleksi darurat pers di Aceh, jurnalis tak dapat dibungkam’ di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Rabu (29/4/2021). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia atau World Press Freedom Day.

Dalam acara yang berlangsung ba’da ashar hingga menjelang waktu berbuka puasa tersebut, tiga wartawan senior Aceh, Munir Noer, Adi Warsidi, dan Hotli Simanjuntak, bergantian menyampaikan sejarah kebebasan pers di Aceh. Termasuk berbagai ancaman yang pernah didapatkan saat bertugas, seperti ancaman pembunuhan keluarganya jika berani menuliskan hal yang merugikan pihak tertentu di media massa.

Adi Warsidi menceritakan, saat konflik Aceh masih berkecamuk dulu, dirinya dan teman-teman jurnalis lainnya kerap mendapatkan ancaman dan pembatasan kegiatan peliputan terkait dengan konflik Aceh oleh berbagai pihak. Ia harus menyampaikan informasi kepada masyarakat sesuai dengan apa yang disampaikan oleh media center resmi pemerintah. Akibatnya, tidak jarang ia harus menampilkan informasi yang tidak cover both side atau tidak memuat informasi dari kedua belah pihak, sebuah hal yang melanggar prinsip pemberitaan yang baik.

Meski demikian, Ia dan jurnalis lainnya tetap berupaya maksimal untuk menyampaikan informasi terbaik kepada masyarakat.

Tidak hanya itu, jurnalis juga harus menggunakan identitas pengenal khusus merah putih yang sangat mencolok yang digantungkan di dadanya kemanapun ia pergi. Belum lagi juga harus membawa Kartu Pengenal Penduduk (KTP) merah putih yang diwajibkan oleh pemerintah kepada seluruh masyarakat Aceh saat itu.

“Sampai-sampai saat kami check-in di hotel di luar Aceh, kami kerap mendapat perlakuan tidak wajar dari resepsionis hotel di tempat kami menginap karena melihat KTP merah putih yang kami perlihatkan.” Ujarnya.

Namun berbagai perlakuan yang menyulitkan pergerakan pers di masa itu dapat dilalui olehnya dan teman-temannya dengan baik. Ia berharap kebebasan pers di masa kini dan nanti tidak lagi harus terkekang dengan pembatasan-pembatasan seperti itu.

Hotli Simanjuntak, fotografer kawakan Aceh menceritakan pengalaman liputannya dalam masa konflik. Salah satu foto karyanya yang dipajang di halaman sekretariat AJI Banda Aceh membuat seorang wartawan penasaran dan bertanya tentang kisah di balik foto seorang militan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sedang menembak yang difoto tepat di sebelah orang tersebut.

“Foto itu memang unik, karena saya memotret anggota GAM yang sedang bertempur dari jarak sangat dekat. Saat saya tiba di markasnya, di antara mereka bahkan ada yang mengatakan ‘asyiik, ada wartawan datang’, lalu mengambil senapan dan mulai menembak ke arah tentara di seberang.” Kisahnya.

Namun saat rentetan tembakan satu arah itu memecah suasana siang itu, tiba-tiba pria yang akrab disapa Bang Hotli ini mengatakan dari pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) ada yang berteriak, “Oooi anak GAM, jangan nembak dulu… kami sedang makan!” Lalu temannya mengatakan pada yang menembak agar berhenti menembak dulu dan membiarkan tentara makan siang dulu. Kemudian mereka makan siang juga.

“Selesai makan siang, dari seberang terdengar teriakan kembali, ‘Oooi anak GAM, ayo kita lanjut perang!’ Suara tembakan pun mulai terdengar dari kedua belah pihak. Namun tidak ada yang menjadi korban jiwa dari insiden itu.” Kata Bang Hotli.

Ia sempat mengira jika mereka hanya perang-perangan atau sekedar bercanda saja. Sampai ada yang mengingatkannya untuk tiarap dan berhati-hati agar tidak tertembak.

“Saya melihat ada peluru terbang di atas kepala saya dan mengenai pohon pinang. Pohon itu ambruk dan menyadari jika mereka menggunakan peluru tajam sungguhan.” Lanjutnya.

Saat sedang kontak tembak tersebutlah, ia mengabadikan foto seorang petempur GAM yang tengah menembak dari jarak dekat tersebut.

“Perangnya terlihat main-main, tapi matinya beneran.” Ujarnya disambut gelak tawa peserta seminar.

Ustadzah Khaira Mukhlisa, pembina Departemen Jurnalistik dan Humas OSDIQ yang turut hadir mendampingi santri dalam kegiatan tersebut mengatakan, pihaknya hadir dalam kegiatan tersebut untuk mengenalkan dunia jurnalistik lebih dekat kepada santri binaannya serta tantangan nyata yang dihadapi jurnalis di lapangan.

“Anak-anak kita perkenalkan dengan dunia jurnalistik lebih jauh dengan melihat langsung karya foto jurnalistik, berkenalan dan mendengarkan kisah langsung dari pelaku pers senior di Aceh melalui kegiatan ini. Anak-anak juga bisa merasakan langsung tantangan penyediaan informasi yang akurat kepada masyarakat yang ternyata begitu banyak tantangannya di lapangan.” Ujar Khaira.

Khaira melanjutkan, ketiga pemateri menceritakan upaya pantang menyerahnya dalam kegiatan peliputan dan menyiasati kesulitan dihadapi dengan berbagai solusi kreatif.

“Dari apa yang disampaikan oleh pemateri tadi, seorang wartawan haruslah pantang menyerah, kreatif, dan memiliki jiwa pemberani. Semoga semangatnya dapat menular kepada santri kita.” Pungkas Khaira.

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan koleksi majalah ACEHKINI oleh Ketua AJI Kota Banda Aceh, Juli Amin, kepada santri Dayah Insan Qurani dan foto bersama santri dengan para pemateri.

(Insanqurani.net/Rahmatul Fahmi)

Komentar Anda