Wajahnya tertunduk lesu di atas sajadah. Ia masih bimbang mengambil keputusan apakah akan menjual sepeda motor butut satu-satunya yang dimilikinya itu. Namun, ia sangat butuh uang untuk melanjutkan pendidikan anak semata wayangnya, Natasya, di pesantren. Waktu hanya tersisa tiga hari, tapi sumber dana untuk itu belum terlihat. Ia tak ingin mengecewakan tekad sang anak yang ingin menamatkan hafalan Al-Qur’an.

“Bismillah,” ujar Adam, lelaki paruh baya itu usai menengadahkan kedua tangan.

Adam rela menjual sepeda motor itu demi sang anak menempuh pendidikan di pesantren. Hatinya terasa puas. Tak masalah meski besok ia harus berjalan kaki. Baginya lelah itu kelak akan menjadi lillah. Hanya motor dan sepetak sawah yang kini dimilikinya. Sejak pandemi melanda bumi, perusahaan tempatnya mengais rezeki bangkrut. Dia dan kawan-kawannya di-PHK. Saat ini, ia hanya kerja serabutan. Tak menentu. Kadang ada uang harian, kadang juga kosong.

Dari atas sajadah, pria yang kerap meniup suling melalui lubang hidung itu bangkit. Ia berjalan gontai, pelan ke dalam kamar.

Lalu berdiri di hadapan cermin. Sambil menatap dirinya, ia pun berjanji. “Mulai hari ini, saya harus berusaha lebih giat lagi,” ucapnya, lirih.

Lamunannya buyar, tatkala sang anak masuk ke kamar. “Ayah, lagi ngapain,” ujar Natasya penuh manja.

“Sini Nak, duduk di samping Ayah sebentar,” ajak Adam.

“Nak, nanti di pesantren semangat belajar ya, baik-baik dengan kawan, fokus mengenyam pendidikan di sana, agar menjadi hafizah seperti cita-citamu, rajin ibadah. Selalu berbuat baik dan ikhlas. Jangan pernah merasa capai belajar. Kelak kamu akan merasakan semua pengorbanan hari ini, nanti akan menjadi bekalmu dalam menjalani kehidupan ini. Tak usah pikir ayah dan ibu di sini. Kami pasti selalu mendoakanmu,” pesan Adam kepada Natasya sambil menggusuek kepala.

Natasya mengiyakan pesan pesan yang disampaikan ayahnya. Bahkan, Natasya berjanji akan belajar sungguh sungguh dan tak mau membuat mereka sedih. “Insyaallah Ayah, doa Ayah dan Ibu selalu semoga Natasya bisa menimba ilmu di pesantren, dan betah di sana,” ujar Natasya

**

Suara azan Magrib dari masjid terdengar syahdu. Sang Ayah langsung bergegas menuju ke sana. Wajahnya tak lagi kusut. Kini lebih tenang setelah dibasahi air wudhu. Setelah selesai salat, ia tak langsung pulang ke rumah. Sambil menunggu Isya, ia beriktikaf di sana. Mengambil mushaf, membaca surat Al-Mulk sampai selesai. Sesekali ingatannya masih terbayang motor kesayangan yang telah menemaninya bertahun-tahun. Tentu menjualnya adalah pilihan terberat. Ia berusaha keras melawan ingatan itu. Karena semua yang dilakukannya untuk tujuan mulia: mempersiapkan bekal terbaik untuk sang anak dan juga bekal kala mereka sudah pergi menghadap Ilahi. Sebab, untaian doa selalu tercurahkan dari anak saleh.

Sebenarnya, bukan hanya berat menjual sepeda motor kesayangan, tapi juga berat berpisah. Namun, ia tak mau perasaan manja itu menghambat masa depan anaknya. Khawatir nanti ia tidak bisa mandiri, tak paham agama, tak mengerti Al-Qur’an, tak punya akhlak, ujung–ujungnya tak bisa jadi jariyah kalau mereka meninggal nanti. Ia menguatkan diri dan istrinya untuk sang anak yang mau masuk pesantren, apalagi menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu agama.

Saat ia kembali dari masjid, Natasya baru selesai belajar dan mengaji bersama ibunya. Mereka lalu seperti biasa berbagi cerita, canda tawa, dan makan bersama.

*

Di sepertiga malam, ia terbangun untuk menunaikan dua rakaat Tahajud ditutup dengan tiga rakaat Witir. Malam sunyi. Ia bermunajat kepada Tuhan. Memanjatkan doa-doa terbaik dan tak terasa pipinya mulai dibasahi air mata. Sambil menunggu waktu subuh, ia terus berzikir dan tilawah Al-Qur’an.

Pagi-pagi, ia sudah siap berangkat mengais rezeki. Kali ini lebih awal dari biasanya. Ia terpaksa memesan ojek online menuju pasar membantu jualan milik sahabatnya. Ia bekerja dengan gigih dan juga menunaikan shalat Dhuha. Alhamdulillah ada saja rezeki Allah yang datang dengan cara tak terduga, tak disangka-sangka.

***

Hari ini, ia dan istrinya mengantar Natasya ke pondok pesantren. Letaknya masih dalam satu kabupaten dengan rumah mereka. Ia menyewa becak. Tak ada gengsi dan malu, meski yang lain hampir semua diantar pakai mobil. Natasya pun tak mempermasalahkan itu. Wajah Natasya semringah. Seakan mengisyaratkan kepada sang ayah dan ibu kalau ia sangat senang ke pesantren.

Tiba di sana, sang Ibu mendampingi Natasya membereskan lemari dan lainnya di asrama. Sementara sang ayah mengikuti pertemuan wali santri dengan pimpinan dayah.

Pada pertemuan itu, ia mendengar petuah pimpinan dayah sebuah motivasi bagi semua wali santri dengan mengutip pesan KH Hasan Abdullah Sahal

“Agar anak kita bermental kuat, maka orang tua harus lebih kuat, orang tua harus berjuang lebih..ikhlas.. ikhlas.. ikhlas. Anak-anakmu di pondok pesantren gak akan mati karena kelaparan, gak akan bodoh karena gak ikut les ini dan itu, gak akan terbelakang karena gak pegang “gadget”. Insya Allah anakmu akan dijaga langsung oleh Allah karena sebagaimana janji Allah yang akan menjaga Al-Qur’an..yakin.. yakin..harus yakin,” demikian pesan pimpinan dayah.

***

Sungguh tak disangka-sangka. Setelah berlalu dua bulan, nada SMS handphonenya berbunyi. Tertera satu pesan di layar. Dengan mata berkaca-kaca, ia membaca pesan itu dengan perasaan tak menentu: antara yakin dan tidak. Pesan itu menginformasikan bahwa uang pesangon yang sempat tertunda selama ini masuk ke rekeningnya. Jumlahnya melebihi dari harga Honda kesayangan yang dijualnya demi sang anak.

Adam terharu. Langsung sujud syukur. Mengambil handphone, lalu menelpon ke rumah untuk memberitahu sang istri. Ia pun langsung mengajaknya untuk ke membeli Honda baru. Alhamdulillah, tuah ayah berkat keikhlasan demi pendidikan anak. Allah menggantikan dua Honda baru dan dia tak perlu lagi menunggu ojek online.

“Alhamdulillah ya Allah, engkau gantikan yang lebih untuk hamba,” ujarnya dengan bibir bergetar.

***

Nastasya di pesantren menjadi juara kelas. Ia aktif mengikuti berbagai cabang musabaqah dan selalu mendapat Juara.

Hari ini, enam tahun sudah Natasya di pesantren. Ayah dan ibunya hadir mengikuti wisuda Haflah Takhrij. Natasya dinobatkan sebagai santri berprestasi karena menjadi juara pertama dan telah mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an dan satu-satunya santri yang telah lulus beasiswa ke Universitas Al Azhar Mesir.

Mewakili wisudawan lainnya, Natasya menceritakan perjuangan dan pengorbanan sang ayah dan ibu untuk mewujudkan cita-cita nya belajar di pesantren.

“Lelaki terhebat dalam hidup saya adalah sang ayah, masih terkenang perjuangannya beberapa tahun lalu. Ia lelaki tangguh penepis segala kesulitan dalam keluarga. Ia tak menghiraukan dirinya harus jarang duduk di warung kopi. Makan kadang tak ada lauk. Ia memilih menahan segala keinginannya. Semua itu ia lakukan agar saya bisa berdiri tegak fokus belajar di pesantren tercinta ini,” ujar Natasya.

Matanya mulai basah. Suaranya tertahan. Natasya tetap melanjutkan sambutannya, “Sahabat saya semua, itulah perjuangan sang Ayah. Begitu juga ayah kita semua yang ada di sini atau yang sudah duluan meninggalkan kita. Sosok hebat yang tak kenal lelah. Selalu punya 1000 alasan untuk tetap berjuang demi anak dan keluarga. Ia menepis segala kesedihan, kelelahan, dan berusaha sekuat tenaga untuk dapat membuat anak-anaknya merasa tenang dan gembira. Terima kasih ayah, terima kasih ibu, terima kasih semua guru-guru kami.”

Setelah sambutan, Natasya tetap di panggung dan MC mempersilakan ayah dan ibu Natasya maju ke atas panggung. Penuh haru. Isak tangis terdengar sayup-sayup dari semua peserta yang hadir saat Natasya memakaikan mahkota di kepala ayah dan ibunya. Kemudian, suasana ruangan menjadi hening.

“Saya ingin memakaikan mahkota untuk kedua orang tua saya,” ujar Natasya dengan air mata yang terus mengucur.[]

–Penulis: Relnas—

Komentar Anda