Oleh : Amiratul Birri Yusuf*

“Ada empat hal yang tidak dapat kembali : kata yang terucapkan, anak panah yang terlepas, masa lalu, dan kesempatan yang disia-siakan.” – Anonymous.

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Memilih itu memang sulit, karena kadang kita tidak tahu apa dan siapa yang sepatutnya dipilih, dan bahkan konsekuensi dari pilihan itu sendiri. Banyak dari kita takut untuk membuat suatu pilihan yang berbeda dari orang lain dengan berbagai macam alasan yang kemudian hanya membuat diri kita sama sekali tak memiliki kemajuan atau dengan istilah lain jalan di tempat. Kita seharusmya memiliki sejuta alasan untuk membuat suatu pilihan yang berbeda, yang menjadikan kita istimewa.

Bagaimana mungkin seseorang akan berhasil mendapatkan suatu peluang tanpa mencoba sebuah kesempatan? Kita seringkali mengkhawatirkan hal-hal yang pada dasarnya tak seburuk realita yang akan terjadi. Kita kerap cari aman, sehingga pada akhirnya mengabaikan berbagai bentuk kesempatan yang diberikan. Bukan hidup namanya jika tidak dihadapkan dengan berbagai resiko. Untuk memperoleh tujuan yang kita inginkan, ya kita harus menyelami berbagai macam rasa sakit yang terkadang membuat kita patah, menyerah, dan memilih untuk berhenti. Namun, suatu saat kita akan sadar dan menertawakan proses pendewasaan diri tersebut.

Cobalah untuk menjadi istimewa karena setiap orang memiliki potensi yang berbeda. Jauhilah rasa takut, insecure, dan bahkan orang-orang yang hanya bisa menjatuhkan rasa optimisme yang kita miliki. Jangan takut untuk menyicip suatu kesempatan, karena kita tidak pun tidak tahu apa yang sudah Allah persiapkan di ujung jalan tersebut.

Hal yang saya katakan disini berdasarkan pengalaman-pengalaman yang saya rasakan saat masih mondok dulu. Pada awalnya, saya terlalu sering mengkhawatirkan berbagai macam konsekuensi yang kemudian membuat saya takut untuk mengambil beberapa kesempatan yang diberikan.

Covid-19 Ajarkan Kita Tentang  Betapa Berat Tugas Guru
Mendidik Generasi Penerus

Namun, seiring saya melihat orang-orang di sekitar saya yang semakin maju dan berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan membuat saya termotivasi untuk merancang serangkaian goal di dalam hidup. Bahkan membuat saya memberanikan diri meminta diberikan kesempatan untuk berkecimpung di dalam suatu perlombaan atau kegiatan dengan tujuan tak lain hanya ingin mencoba, belajar, dan mencari pengalaman. Siapa sangka, dibalik niat diri saya yang bisa dikatakan saat itu masih sangat polos, Allah menghadirkan berbagai macam bingkisan-bingkisan kecil yang bahkan tak pernah saya duga.

Berbagai pengalaman tersebut dimulai ketika saya masih duduk di kelas 2 MTs, guru saya menawarkan kepada beberapa teman saya untuk mengikuti lomba PORSENI tingkat MTs se-banda aceh, namun kebanyakan mereka  menolak dengan dalih takut dan semacamnya. Saya yang pada saat itu bahkan tidak ditawarkan memberanikan diri untuk memberikan nama pada cabang pidato bahasa arab.

Serangkaian proses pun saya ikuti dengan penuh percaya diri meski hanya diawali dengan tangan kosong. Akhirnya Allah mengizinkan saya untuk memperoleh juara 2 pada kegiatan tersebut.

Dari jejak kecil inilah yang kemudian membekali saya untuk terus mencoba memperkaya diri dengan berbagai macam pengalaman. Tanamkan pesan ini dalam diri kita : “Cobalah dan selesaikan secercah kesempatan tang diberikan. Kita tidak dituntut menang, kita hanya dituntut untuk tidak menyerah. Gagal bukan untuk ditakuti dan dijauhi tapi harus dihadapi, cari solusi, ubah strategi, dan coba lagi.”

*Penulis adalah alumni Dayah Insan Qurani TA 2019/2020 dan sedang melanjutkan pendidikan di Ma’had khadimul Haramain.

Daftar Prestasi Amiratul Birri Yusuf:

  1. Juara 2 Musabaqah Tilawatil Quran Cabang Khat Dekorasi tingkat Kota Banda Aceh, Tahun 2018
  2. Juara 3 Darul Ulum Exhibition Cabang Debat Bahasa Arab Tingkat Provinsi Aceh, Tahun 2018
  3. Juara 3 Musabaqah Qiraatul Kutub Cabang Nahwu tingkat Kabupaten Aceh Besar, Tahun 2019
  4. Juara 2 PORSENI Cabang Pidato Bahasa Arab Tingkat Kota Banda Aceh, tahun 2016
  5. Amiratul Birri Yusuf juga menyelesaikan hafalan Al Quran 30 Juz selama menjadi santri di Dayah Insan Qurani
Komentar Anda