وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS. An-Nisa’: 9).

Adakah yang bisa kita banggakan ketika kita sudah pulang kepada Allah Swt selain generasi shalih dan Shalihah yang kita tinggalkan untuk meneruskan perjuangan kita? .Rasulullah dalam hadisnya telah begitu terang menjelaskan bahwa semua amalan akan terputus kecuali 3 hal yang di antaranya adalah ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih dan shalihah.

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).

Pada setiap ilmu yang kita bagi, akan ada kebaikan yang akan terus mengalir untuk kita saat mereka kemudian mengamalkan dan menyebarkannya lagi. Pada setiap kebaikan yang kita ajarkan, kita akan terus tertransfer pahala dari mereka tanpa mengurangi pahala mereka yang mengejarkannya. Saat kita sudah tidak bisa beramal apapun setelah kematian datang, ada doa yang terus mengalir dari mereka yang kita bimbing untuk menjadi generasi yang taat pada Allah Swt.

Maka Allah mengingatkan kita untuk senantiasa merasa takut dan khawatir dengan kualitas generasi yang kita tinggalkan. Keberhasilan kita tidak diukur pada kesuksesan kita sendiri, tapi bagaimana kualitas generasi penerus yang kita tinggalkan yang akan meneruskan mimpi-mimpi kebaikan kita, yang akan melanjutkan misi perjuangan kita dalam menebarkan kebaikan.

Itulah mengapa Rasulullah Saw begitu serius dalam mendidik para sahabat. Bukan hanya mendidik untuk cerdas dari segi keilmuan saja, tapi juga hebat dari segi ruhiyah dan jasadiyah. Hingga kemudian setelah Rasulullah Saw wafat, yang beliau tinggalkan adalah generasi yang tangguh yang siap melanjutkan misi langit di bumi yaitu menyebarluarkan agama Islam ke berbagai penjuru dunia.

Kita juga perlu belajar dari kisah kehidupan sosok hebat Shalahuddin Al Ayyuibi, sang pembebas Palestina yang begitu menyejarah kisahnya.

Siapa dibalik Shalahuddin Al Ayyubi? Dialah Ayahnya, Najmuddin Ayyub yang begitu berpengaruh dalam proses pendidikan Shalahuddin Al Ayyubi hingga ia tumbuh menjadi anak yang shalih, berani dan cerdas. Ayahnya berhasil mendidik Shalahuddin Al Ayyubi menjadi pejuang yang hebat.

Selain itu, hadir juga sosok guru hebat bagi Shalahuddin Al Ayyubi, dialah Nuruddin Zanki. Beliaulah yang kemudian menanamkan semangat membebaskan Palestina dalam jiwa Shalahuddin Al Ayyubi. Sekalipun Nuruddin Zanki meninggal dunia sebelum beliau berhasil membebaskan Palestina, namun semangat juang itu tidak padam. Shalahuddin Al Ayyubi sebagai muridnyalah yang kemudian meneruskan semangat membebaskan Palestina sehingga sejarah mencatat bahwa di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi, Palestina berhasil kembali ditaklukkan oleh kaum muslimin.

Maka benarlah sebuah ungkapan bahwa orang hebat adalah ia yang mampu meninggalkan generasi penerus yang lebih hebat dari dirinya. Orang hebat adalah ia yang ketika jasadnya telah tiada, kebaikannya terus tertanam di dalam jiwa orang-orang yang ditinggalkannya, semangat perjuangannya terus menyala dalam hati para penerusnya hingga merekalah yang kemudian meneruskan proyek-proyek kebaikan yang telah ditanamkan saat ia masih hidup di dunia.

Maka sudah seharusnya dalam diri kita ada rasa kekhawatiran tentang generasi yang kita tinggalkan. Kekhawatiran yang dibarengi dengan semangat untuk terus berjuang mendidik generasi penerus kita dengan baik, dengan berbekal rasa takut kepada Allah, taqwa kepada Allah, dan membiasakan mengucapkan perkataan-perkataan yang benar sebagaimana pesan Allah dalam QS. Surat An-Nisa ayat 9 yang telah dicantumkan di atas.

Mengutip perkataan KH Maimun Zubair: Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati diuji kesabarannya. Namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga.

Majidah Nur
Kabid Pengasuhan Putri Dayah Insan Qurani

Komentar Anda