Hawa panas mengungkung rumah kediamanku ini, membuat keringat membasahi sekujur tubuhku. Dengan mata nanar kupandangi layar televisi usang milikku. Salah satu salurannya sedang menayangkan warta berita terkait perkembangan kasus virus corona dinegeri ini. Lagi-lagi pertambahan pasien positif terjadi, muak rasanya diriku menyimak berita tersebut. Apa selamban inikah pemerintah mengambil tindakan? Ataukah rakyatnya yang keras kepala? dadaku serasa sesak melihat mereka tetap saja mengurus tetek bengek politik ditengah kondisi seperti ini.

Ditambah lagi, sudah hampir 3 bulan lamanya aku hanya beraktifitas disekitaran pekarangan rumahku ini. Muak,bosan,serta suntuk yang tak tertahankan menguasai jiwa dan ragaku ini. Orangtuaku adalah pegawai rendahan yang bekerja di kantor camat setempat, beliau diancam pecat jika tidak mematuhi pembatasan sosial yang sekarang sedang diberlakukan oleh pemerintah. Akibatnya, seluruh keluarganya termasuk diriku dilarang keluar rumah kecuali untuk hal-hal mendesak saja. Perlahan rasa kantuk kembali menyergapku, dengan keahliannya, ia membuatku terlelap dan membawaku kembali ke alam mimpi. Mulanya hanya hampa yang kurasakan, akan tetapi lama kelamaan aku tersadar bahwa dunia ini tak asing lagi bagi diriku. Ya, aku berada di asrama pondok pesantrenku yang amat kucintai.

***

“Beko, ayo bangun, sudah hampir subuh.” Sontak aku sadar dari lamunanku tadi. Terlihat kakak kelasku sudah berpakaian rapi hendak ke masjid. Aku mulai ragu, apakah ini memang mimpi atau sungguhan. Kalaulah ini benar mimpi, maka ini pasti disebabkan kerinduanku dengan pondok benar-benar telah membuncah. Memang kondisi saat ini membuat kami harus dipulangkan ke daerah masing-masing, namun aku berharap agar kami segera kembali ke pondok. Rumah keduaku yang tak kalah nyamannya dengan yang ada di Gampong.

Tak ambil pusing apakah ini mimpi atau kenyataan, aku bangkit dari ranjangku dan langsung bersiap-siap ke masjid. Suara sirine portable telah mengaung hampir lima menit lamanya, pertanda waktuku tinggal sedikit lagi. Para kakak kelasku yang kini menjabat sebagai pengurus sudah mulai mengecek kamar satu persatu, memastikan bahwa tak ada yang tinggal untuk shalat jamaah di masjid. Begitu pula dengan kamarku, ketika pintu dibuka, terlihatlah wajah berseri Akhi Israul yang dengan lembutnya menyuruhku bergegas. Tanpa basa basi, aku berlari menyusuri koridor asrama dan menuruni tangga hingga aku hampir terjerembab. Dijalan setapak yang biasa kami lalui, aku bersua kembali dengan teman-teman sejawat yang juga berjalan cepat menuju masjid. Ini kami lakukan setiap hari tanpa ada paksaan, ikhlas semata-mata karena Allah dan tentunya melatih kedisiplinan kami. Pondokku ini selalu melatih para santrinya untuk memiliki kepekaan dan kesadaran yang tinggi. Hal ini menjadikan kami tidak perlu dihukum macam-macam, cukuplah nasehat indah para guru dan pengurus yang memotivasi kami agar terus bersemangat menjalani hari.

Tak terasa, usai sudah pelaksanaan shalat subuh berjamaah dan halaqah tahfiz pagi. Waktunya kami kembali ke asrama dan bersiap-siap mengikuti pelajaran sekolah. Ah, indah nian kehidupan di kota santri ini. Rasanya aku tak ingin bangun lagi dari mimpi ini, bahkan berharap bahwa ini benar-benar kenyataan.

“Beko”,tepukan lembut itu membuatku sadar dari lamunanku. “ jangan melamun terus, nanti bisa kemasukan makhluk halus lho”,aku tersenyum manis menanggapi gurauan temanku itu. Aku dan teman-teman sekamarku memang ahli dalam menghibur orang lain, tentunya candaan kami tetap dalam batas kesopanan dan tidak membuat orang lain sakit hati. Bel pertama berbunyi, alamat waktu kami hanya tinggal 5 menit lagi sebelum pelajaran pertama dimulai. Bel itu juga seakan mengisyaratkan bahwa aktifitas pondok pada pagi ini benar-benar telah dimulai. Sejurus setelah guru memulai pelajaran, seiring itu pula para karyawan pondok mulai berkutat dengan pekerjaannya masing-masing. Terlihat salah satu karyawan RO mulai mengisi gallon satu persatu dengan cermat lalu mendistribusikannya ke seluruh asrama. Begitu pula dengan karyawan kantin yang mulai mempersiapkan dagangan yang siap diserbu para santri saat waktu istirahat tiba. Kegiatan demi kegiatan terus berlanjut di pondokku. kesederhanaan tidak membuat kami merasa kekurangan, terus terang saja, kesederhanaan itulah yang memecahkan dinding kesenjangan sosial antara kami. Sehingga terwujudlah benteng persatuan yang kokoh, tak peduli warna kulit, status sosial, maupun harta benda.

Malam pun tiba di pondokku, kegiatan terus berlanjut. Malam ini kami mendapat nasehat penting dari Ustadz Muzakkir terkait mutiara kehidupan. Namun temanku yang duduk tepat disampingku sedang meradang kejahilannya, ia melemparkan sebutir kerikil kearah depan. Ia berharap yang terkena lemparannya tersebut akan kebingungan sehingga melempar balas kearah lainnya, ia berharap pula setelah itu akan terjadi perang kerikil. Ia memang terkenal agak bebal sehingga cepat bosan mendengar ceramah. Akan tetapi lemparannya kali ini salah sasaran, bukannya mengenai kawan di depannya malah mengenai Akhi Fajar Riski. Ia pun akhirnya diberdirikan sampai ustadz menutup majelis. Lika liku seperti itulah yang membuatku selalu merindukan hari-hari dipondok ketika libur.

Kegiatan kami akhiri dengan membaca doa sebelum tidur bersama-sama, namun malam ini aku seperti memiliki firasat buruk, aku tidak bisa tidur, keringat dingin membasahi tubuhku. Benar saja, tepat satu jam sebelum pergantian hari, terdengar gemuruh yang semakin lama semakin besar, tiba-tiba bangunan berguncang, diiringi teriakan histeris yang menjelma menjadi tangisan pedih, aku dan teman-teman sekamarku lari dan melompat dari lantai dua karena tak ada lagi akses tangga. Ditengah lapangan depan asrama, semua santri putra tampak telah berkumpul, tangisan sedu sedan terdengar memilukan jiwa, tampak bangunan asrama yang ambruk, hanya menyisakan pondasi dan puing-puing saja. Aku menangis sekuat tenaga, tak tahan melihat semua ini, tiba-tiba seberkas cahaya terang datang dari ufuk langit, aku pun tak sadarkan diri.

***

“Beko, bangun nak. Kenapa kamu nangis? Mimpi buruk barusan ya?”suara lembut emak membangunkanku. Aku melihat sekelilingku, ternyata benar barusan itu hanya mimpi,aku usap air mata yang membasahi wajahku. Jantungku masih terus berdebar kencang. setelah aku kembali tenang, kuceritakan semua yang terjadi dalam mimpiku pada emakku, dengan tersenyum ia memberi kabar gembira bahwa Indonesia telah zero pasien corona dan akhir pekan ini kami sudah bisa kembali ke pondok. Beliau tahu diriku sangat merindukan pondok, mungkin rasa cinta ilmu inilah yang membuat keajaiban dari Allah datang sehingga dalam beberapa jam saja kasus menjadi nol. Aku menangis bahagia karena bisa segera kembali belajar bersama teman-temanku dan tentunya bisa kembali beraktifitas seperti biasanya. Dan sejak saat itu aku yakin bahwa tak satupun doa dan harapan seorang hamba yang ditolak Allah, melainkan berbeda cara dan waktunya saja.

Cerpen Karya : AHMAD MUJAHID
Kelas : VIIIB

Komentar Anda