Di sebuah desa yang terletak ditengah-tengah hutan,  seorang pemuda tenggelam. Namun ia tidak tenggelam di dasar laut, tapi di dasar kegelapan yang sangat gelap. Rasa dendam yang tertanam di hatinya sangat kuat, membuat hatinya menjadi sangat keras.

Jangankan orang lain membuat kesalahan besar kepadanya, bahkan kesalahan yang remeh temeh, tanpa sengaja saja tidak bisa ia maafkan. Bahkan ia akan membalas dengan kejahatan yang lebih  jahat hanya untuk ketidaksengajaan itu. Hatinya merasa tidak tenang saat ia belum balas dendam. ia akan tenang setelah membalaskan dendamnya dan melihat kepedihan yang dirasakan orang yang ia balas.

Sudah berkali kali ia diingatkan oleh orang kampungnya  untuk bertaubat, tapi ia selalu mengiraukannya. Ia juga tak pernah shalat, mengaji, membayar zakat dan tidak pernah beribadah kepada Allah. Waktu ia masih kecil, ia pernah shalat dan mengaji walau jarang. Itupun ketika orang tuanya marah sampai mengurungnya dikamar mandi saat malam hari tiba.  Ayahnya juga  selau mengingatkan untuk memafkan orang lain. Tapi ia hanya mengatakan “iya” dilisannya dan tidak benar-benar mendengarkan ayahnya. Jika ia mengatakan “tidak”, mungkin ia akan dihukum oleh ayahnya lagi.

Setahun yang lalu kedua orang tuanya meninggal. Ayahnya meninggal karena sakit jantung, sedangan ibunya meninggal karena syok melihat suaminya kembali kepada tuhan. Sekarang pemuda itu bebas melakukan apa saja. Ia bebas sesuka hatinya berbuat yang ia suka. ia terus berada dalam kegelapan, tersesat, tak tau arah, buta dalam waktu yang lama.

Semakin lama orang orang menjauh darinya. Sampai akhirnya ia tak memiliki siapapun lagi dalam hidupnya. Orang orang menganggapnya seperti benda mati. Melihat hal ini, api kebenciannya berkobar. Ia membakar semua rumah warga sampai tak bersisa apapun kecuali harta benda yang sudah dibawa pergi oleh warga. Semua warga desa itu pergi menyebar kesuatu tempat untuk memulai hidup baru tanpa pemuda pendendam ini.

Pemuda ini hidup sendiri di kampung itu. Mencari makan sendiri, memperbaiki rumah sendiri, semua ia lakukan seorang diri. Ketika malam tiba ia selalu menatap kelangit melihat keindahan dunia. Ia melihat begitu indahnya langit malam dengan bintang yang menyebar luas dilangit.

Pada suatu malam ia sangat merasa kesepian dan tak pernah merasa sesepi itu. Ia melihat bintang bintang yang banyak mulai tertutup oleh awan. satu bintang yang belum tertutup oleh awan,  dilihat pemuda itu dengan sangat seksama. Tapi akhirnya bintang itu tertutup oleh awan yang siap menurunkan hujan. Malam itu sangat gelap seperti dirinya yang tenggelam oleh kegelapan. Hujan turun dengan sangat deras.

Pemuda itu masuk ke rumah kecil nya dan menghidupkan sebuah lilin. Ia terdiam sambil menatap lilin tersebut. Ia merenungi atas apa yang telah terjadi padanya selama ini. Ia melihat kemasa lalu, melihat dirinya yang tersesat akibat kegelapan. Iapun akhirnya sadar bahwa selama ini ia salah.

Pada saat itu juga untuk pertama kalinya ia merasa sangat takut pada kesendirian. Ditengah hujan yang lebat itu ia lari  tanpa tujuan. Ia hanya barlari lurus kedepan mengarah ke hutan. Setelah lama ia berlari menyusuri hutan, ntah karena kelelahan atau tersandung batu, iapun jatuh. ia tak tahu penyebab ia terjatuh. Ia pingsan ditengah hutan yang basah.

Saat membuka mata, pemuda itu sangat senang. Sebab yang ia lihat itu adalah seorang pemuda yang seumuran dengannya. Pemuda itu mengenakan jubah dan kopiah dikepalanya. Pemuda itu langsung memeluk orang itu. Ia menceritakan apa yang telah terjadi padanya kepada orang alim itu.

Orang alim itupun mengajarkan tentang agama kepada pemuda itu. Mereka tinggal seatap sampai rumah pemuda itu selesai dibangun disamping rumah orang alim itu. Setelah berminggu minggu belajar agama, kini ia tahu siapa penyebab ia tersesat. Ternyata itu adalah kesalahan setan yang menggodanya.

Hari itu rasa bencinya bergejolak, iapun pada saat itu pula membalaskan dendamnya pada setan. Ia beristighfar sebanyak banyaknya dan selalu beribadah, mengingat allah juga melakukan semuanya karena allah. Dengan begitu setan yang sudah menggodanya akan merasakan kepahitan.

Dosa dosa pemuda itu yang dikumpulkan dalam waktu lama, telah hilang karena ampunan rabbnya. Setan itupun tidak akan hidup tenang sekarang. Sebab pemuda ini selalu taat pada allah mengerjakan perintah rabbnya dan menjauhi larangannya.

Pemuda itu juga menyadari itu semua juga salahnya. Kenapa ia mau menuruti setan untuk berbuat keburukan dan menjadi pendendam. Ia membalas dirinya dengan menjadi pemaaf. Sekarang ia tidak akan dendam lagi pada orang lain tapi ia akan memafkan orang tersebut.

Di sinilah, di kampung baru ini ia memulai hidup yang baru. Kedua pemuda sebaya itu, beribadah kepada allah bersama sama. Mulai sekarang pemuda itu tidak kesepian lagi dan hidupnya menjadi terang dan indah seperti bintang bintang yang bertaburan dilangit malam.

Benci tidak selamanya buruk
Bila yang dibenci adalah keburukan
Membantu tidak selamanya baik
Bila yang dibantu itu adalah kejahatan

Cerpen Karya: Wildan Shafly

Komentar Anda