Dunia sedang diliputi kekhawatiran terhadap pandemi global Corona Virus Disease(COVID-19). Pandemi ini tidak hanya membahayakan nyawa manusia namun juga sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia. Virus ini mulanya ditemukan di kota Wuhan, provinsi Hubei Tiongkok. Para peneliti menyimpulkan bahwa virus ini berasal dari kelelawar, hewan liar yang dikonsumsi masyarakat Tiongkok. Sebelum virus merebak, praktik jual beli hewan liar untuk konsumsi dengan mudah ditemukan di pasar hewan liar Wuhan. Namun kini pemerintah Tiongkok telah melarang jual beli hewan liar di negara tersebut.

Orang yang terkena virus ini akan mendapat gangguan pernapasan seperti sakit tenggorokan, demam, hingga sesak napas. Dan gejala-gejala tersebut apabila tidak ditangani dengan serius akan menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Hal lain yang dikhawatirkan dari virus ini adalah laju penularannya yang begitu cepat sehingga dalam beberapa bulan COVID-19 telah berjangkit hampir di 70 negara di dunia. Bahkan kematian yang terjadi akibat COVID-19 telah mencapai 349.894 nyawa manusia per 27 Mei 2020.

Ahmad Kamil Baba usai mengimami Shalat Idul Fitri di Mesjid Al Falah Abu Lam U Kemukiman Lam Jampok Kec. Ingin Jaya Aceh Besar

Fakta tersebut telah menyebabkan masyarakat dunia dilanda ketakutan dan waswas yang berlebihan. Menurut ahli penyakit menular, penyakit ini memang menular dengan cepat namun orang yang memiliki kekebalan tubuh rendah memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kasus yang fatal. Padahal salah satu penyebab turunnya imunitas tubuh adalah rasa takut dan gelisah yang berlebihan. Maka disarankan agar kita tidak perlu panik berlebihan dalam menghadapi virus ini, akan tetapi selalu waspada dengan tetap menjaga kebersihan sesuai prosedur yang telah ditetapkan ahli medis.

Berbagai cara dilakukan pemerintah di seluruh dunia untuk mengendalikan pandemi ini. Ada yang memilih karantina wilayah sebagian, bahkan ada juga yang melakukan lockdown total atau menutup seluruh akses pergerakan warganya, memaksa warganya untuk tidak keluar dari rumahnya masing-masing. Namun pemerintah kita telah mengambil keputusan yang lebih bijak yakni dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar(PSBB). Dimana PSBB ini tidak menghentikan aktifitas masyarakat secara menyeluruh akan tetapi lebih kepada pembatasan kontak fisik secara langsung. Kecuali bagi wilayah yang mengalami laju peningkatan penyebaran virus secara signifikan.

Ditinjau dari sisi sejarah, wabah seperti ini juga pernah melanda dunia beberapa abad yang lalu. Seperti wabah black death yang melanda Eropa pada abad pertengahan yang menyebabkan meninggalnya setengah dari total penduduk eropa pada saat itu.

Wabah mematikan juga pernah melanda Aceh pada akhir abad 19 sampai awal abad 20. Wabah yang bernama kolera ini populer dengan sebutan ta’eun ija brok di kalangan masyarakat Aceh pada waktu itu. Wabah ini dibawa para serdadu Belanda yang menginvasi Kutaraja pada tahun 1873 M. Penyebab utama lajunya penularan wabah-wabah tersebut adalah rendahnya budaya hidup bersih di masyarakat serta kurangnya edukasi tentang penanganan dan pencegahan wabah-wabah tersebut.

Namun bila kita melihat kondisi saat ini, hal sebaliknya malah terjadi. Dimana pemerintah berusaha untuk memberikan kontribusi penuh dalam penanganan wabah ini, tetapi kebanyakan masyarakat malah masa bodoh dan acuh tak acuh terhadap upaya pemerintah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya warga yang nongkrong di warung kopi dan berbagai kegiatan yang mengumpulkan massa. Tidak hanya pemerintah, para Ulama juga ikut andil memberikan kontribusi spiritual dalam penanganan wabah COVID-19 di tanah air. Mulai dari menyerukan pembacaan do’a qunut nazilah dalam setiap shalat wajib hingga anjuran untuk tetap berjama’ah di masjid. Tetapi pada realitanya, masyarakat yang shalat di mesjid kalah jumlah dibandingkan masyarakat yang nongkrong di warkop maupun di cafe.

Penerapan lockdown dan karantina wilayah di berbagai negara di dunia juga berdampak pada peningkatan penduduk miskin di dunia. Dimana kebanyakan mereka bekerja dengan sistem upah harian, yang berarti jika mereka tidak bekerja selama satu hari maka tidak ada pemasukan untuk hari tersebut. Berbeda dengan pegawai kantoran yang menggunakan sistem gaji bulanan, dimana tetap ada gaji pokok meskipun tidak masuk kantor. Mereka tetap bisa bisa bekerja dari rumah dengan memanfaatkan jaringan internet dan perangkat gadget. PHK besar-besaran juga terjadi di pelbagai industri retail dan tekstil karena minimnya omzet akibat lockdown. Hal ini tentunya menuntut pemerintah Indonesia maupun dunia untuk memberikan perhatian lebih pada masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19, Baik dengan memberikan bantuan moral maupun finansial untuk meringankan beban hidup mereka.

Pandemi COVID-19 juga telah membuat pemerintah Saudi Arabia berencana membatalkan pelaksanaan ibadah haji 2020 jika keadaan tidak membaik. Bahkan jika dilaksanakan, hanya akan dilakukan dengan jumlah jamaah haji yang sedikit. Pelaksanaan umrah telah distop sejak awal tahun menyusul ditutupnya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk umum.

Namun tidaklah Allah swt melakukan sesuatu dengan sia-sia. Ia yang Maha Ilmu lebih tahu apa maksud dari kemunculan pandemi pada 2020 ini. Tapi beberapa hal baik telah kita lihat muncul di balik gelapnya awan hitam yang menyelimuti dunia saat ini.

Diantaranya adalah menurunnya intensitas pencemaran udara diseluruh dunia. Bagaimana tidak? Lockdown telah membuat aktifitas pabrik-pabrik besar di berbagai belahan dunia terhenti sehingga asap hasil pembakaran berkurang drastis. Begitu pula dengan gas emisi kendaraan yang juga mengalami penurunan akibat minimnya pengguna kendaraan pribadi.

Hikmah lain yang dapat kita ambil dari cobaan ini adalah bagaimana Allah telah memuliakan umat islam dengan sunnah rasulnya yaitu menjaga wudhu’ dan memperbaharuinya setiap hendak shalat wajib. Rutinitas umat Islam saat hendak shalat ini dipuji warga dunia karena sejalan dengan prinsip hidup sehat. Pakar kesehatan pun mengakui bahwa wudhu’ membantu mengurangi potensi penularan virus. Salah satunya adalah seorang ulama besar Mesir yang juga seorang dokter bedah, Prof. Dr. Yusri Rusydi Gabr El-Hasani yang menegaskan agar tidak berlebihan menggunakan antiseptik karena wudhu’ lima kali sehari sudah lebih dari cukup untuk mensterilkan tubuh dari bakteri dan virus-virus tidak baik.

Keajaiban wudhu’ ini dibuktikan oleh masyarakat muslim Uighur yang mayoritasnya tinggal di provinsi Xinjiang, Tiongkok. Dimana tidak ada satupun dari komunitas mereka yang terpapar pandemi COVID-19 karena selalu berwudhu’ minimal lima kali sehari. Allah juga memperlihatkan bagaimana islam menjaga kesehatan tubuh manusia dengan mengharamkan konsumsi hewan-hewan liar yang berpotensi membahayakan tubuh manusia.

Maka kita sebagai umat islam yang wasathy tidak sepatutnya takut berlebihan terhadap COVID-19 karena sesungguhnya hakikat rasa takut hanya kepada Allah semata, akan tetapi kita tidak boleh pula meremehkan dan pasrah begitu saja terhadap wabah tersebut. Sebaliknya kita dituntut agar terus berikhtiar, mengikuti pedoman kesehatan yang dikeluarkan para pakar kesehatan, dan terus berhati-hati agar tidak ikut terjangkit wabah tersebut. Dan apabila usaha kita telah maksimal barulah kita bertawakkal kepada Allah.

Penulis : Ahmad Kamil Baba, santri kelas XI Dayah Insan Qurani. Saat ini menjabat sebagai ketua Organisasi Santri Dayah Insan Qurani.

Komentar Anda