*Resume Buku Segenggam Iman Untuk Anak Kita

Oleh: Majidah Nur (Kepala Pengasuhan Putri Dayah Insan Qur’ani)

Penulis Buku: Ust. Muhammad Fauzhil Adhim

Harus ada perjuangan agar iman itu tumbuh, berkembang, mengakar dan menguat dalam jiwa anak-anak kita sehingga mereka bersedia meneteskan keringat untuk menyemainya. Telah terbukti dalam sejarah bahwa orang yang cemerlang pengetahuannya, disegani dan dihormati kepemimpinannya adalah mereka yang memiliki keimanan yang kuat pada Allah. Iman itu menggerakkan mereka untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya, termasuk belajar mendalami berbagai cabang pengetahuan. Mereka menjadi pribadi yang kuat karena mereka tidak menyandarkan harapan kecuali kepada Allah Swt semata. Tidak sibuk meratapi masa lalu karena khawatir menjadi pintu masuknya setan untuk melemahkan jiwa dan imannya.

Jika iman benar-benar tumbuh, maka kesungguhan dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya adalah buah manis untuk dipetik. Jika kesungguhan tidak hadir, maka ada yang perlu diperiksa atas iman mereka. Apakah benar-benar beriman atau hanya memiliki pengetahuan tentang iman. Maka, yang pertama kali kita perlu risaukan adalah iman mereka, keshalihahan mereka. Jika anak-anak menjadi pribadi shalih bersebab upaya kita, baik langsung atau tidak, ada pahala yang mengalir untuk kita.

Kita perlu mengingatkan anak bahwa potensi mereka harus dikembangkan dalam rangka agar pribadinya menjadi orang yang semakin ringan hatinya menolong agama Allah. Jangan sampai ambisi kita menjadikan anak tampak istimewa justru menjadi sebab rapuhnya jiwa dan lemahnya iman bersebab kita mengejar yang instan, melupakan yang fundamental.

Bukan banyak anak yang menyebabkan kita tak punya kesempatan mengurus diri sendiri, bukan juga aktifnya mereka yang menjadikan kita merasa kelelahan. Kesiapan mental kitalah yang lebih banyak berpengaruh terhadap bagaimana kita merasakan tiap-tiap peristiwa sebagai kesengsaraan dan penderitaan atau sebagai tantangan dan ladang amal shalih untuk kita. Sebelum urusan bagaiamana mengasuh anak, ada yang perlu kita benahi dengan niat kita. Anak yang dibesarkan dengan keluh kelah cenderung tidak memiliki daya juang yang tinggi. Sebaliknya, jika anak-anak dibesarkan dengan penuh kesyukuran serta kehangatan, akan lebih mudah belajar menebarkan kebaikan dan kesantunan.

Ada yang perlu kita perhatikan dalam mengasuh anak. Segala sesuatu ada ilmunya. Tugas kita adalah membekali diri dengan ilmu sebelum berbicara dan bertindak. Pada saat yang sama, kita memohon pada Allah agar apa yang ada dalam diri kita dapat menjadi jalan kebaikan.

Agar Anak Tidak Kritis Identitas

Tugas utama orangtua adalah mengantarkan anak menjadi manusia yang mengerti tujuan hidupnya, untuk apa ia diciptakan. Kita bekerja keras agar bisa memberi pendidikan yang terbaik, dengan memasukkan landsan hidup yang penting ke dalam jiwa mereka sehingga kemanapun mereka pergi, ridha Allah yang mereka cari. Orientasi hidup inilah yang perlu kita tumbuhkan semenjak dini sehingga ia belajar menimbang dan menilai dan menjadi daya penggerak (driving force) bagi kehidupannya.

Sungguh, tugas orang tua bukanlah mempersiapkan anak-anak memiliki prestasi akademik yang menakjubkan. Tugas mereka adalah membimbing anak-anak agar mencintai ilmu, sehingga dengan kecintaan yang besar itu mereka akan bersemangat dalam belajar.

Kecintaan terhadap ilmu mendorong mereka berprestasi, tetapi prestasi bukan menjadi tujuannya. Mereka mungkin akan menjadi bintang kelas, tetapi seandainya prestasinya bukan yang terbaik di kelas, mentalnya akan tetap kuat. Tidak runtuh.

Tiga bekal dalam mengasuh anak (Merujuk pada QS.Ani-Nisa: 9)

1. Rasa Takut terhadap masa depan mereka

Berebekal rasa takut, kita siapkan mereka agar tidak menjadi generasi yang lemah. Berbekal rasa takut, kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupan dengan kepala tegak dan iman yang kokoh.

2. Takwa kepada Allah

Andai kata tak ada bekal pengetahuan yang kita miliki tentang bagaimana mengasuh anak-anak kita, maka sungguh cukuplah ketakwaan itu mengendalikan diri kita. Berbekal takwa, ucapan kita akan terkendali dan tindakan kita tidak melampaui batas. Seorang yang pemarah dan mudah meledak emosinya, akan mudah luluh jika ia bertakwa.

3. Berbicara dengan perkataan yang benar

Boleh jadi banyak kebiasaan yang masih mengenaskan dalam diri kita. Tetapi, berbekal takwa, berbicara dengan perkataan yang benar akan mendorong kita untuk terus berbenah. Karenanya bertakwa dan berbicara dengan perkataan yang benar adalah dua hal yang harus kita perjuangkan agar melekat dalam diri kita, dan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sekiranya keduanya ada dalam diri kita, maka Allah akan baguskan diri kita dan amal-amal kita (Lihat QS. Al-Ahzab:70-71)

Belajar pada kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth yang istrinya adalah pembangkang, tidak mengikuti ajakan suami menuju keimanan sehingga putra dari kedua Nabi ini pun membangkang. Allah jadikan istri Nuh dan Luth As sebagai contoh *bahwa iman tak bisa ditegakkan, anak-anak tak bisa diharapkan, kebaikan tidak bisa hadir di rumah jika istri rapuh imannya dan lemah pendiriannya. Karenanya, kunci pertama melahirkan anak-anak shalih adalah menyiapkan calon ibu shalihah bagi anak-anak kita.

Sesungguhnya setiap anak memerlukan tiga ibu: ibu kandung, ibu susu, ibu asuh sebagai madrasah pertama.

Segenggam iman anak kita akan terlepas begitu saja jika istri tak satu kata dengan suami. Ayahnya memang beriman, tapi jika ibu yang setiap saat mendekap dan mengasuhnya terlepas dari iman,maka anakpun tak sanggup menggenggam iman kepada Allah Swt.

Komentar Anda